Perpaduan harmoni antara peninggalan sejarah agung, legenda budaya Sunda, dan keindahan alam hutan lindung yang masih terjaga di jantung Kabupaten Ciamis.
Situs Karangkamulyan merupakan kawasan cagar budaya sekaligus hutan lindung yang menyimpan jejak peradaban Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan tertua di tanah Pasundan (Sunda).
Berada di area seluas puluhan hektar, tempat ini bukan sekadar susunan batu purba, melainkan saksi bisu kejayaan masa lalu yang terbalut rimbunnya alam, memberikan pengalaman spiritual dan edukasi bagi setiap pengunjungnya.
Hektar Area
Abad Sejarah
Situs Utama
Alam Terjaga
Abad ke-7 Masehi, Karangkamulyan diyakini sebagai pusat pemerintahan pertama Kerajaan Galuh, memisahkan diri dari Kerajaan Tarumanagara.
Kawasan ini menjadi saksi lahirnya legenda Ciung Wanara, kisah perebutan tahta antara kakak beradik Hariang Banga dan Ciung Wanara yang ikonik.
Struktur batuan (menhir, dolmen) ditemukan dan diteliti, menguatkan bukti bahwa lokasi ini adalah bekas pusat peribadatan dan keraton masa lampau.
Hingga kini, Karangkamulyan dilestarikan sebagai objek wisata sejarah dan kawasan konservasi alam unggulan di Jawa Barat.
"Kisah yang terukir di atas batu, gemanya masih terdengar di riuhnya arus Sungai Citanduy."
Karangkamulyan tidak bisa dilepaskan dari legenda Ciung Wanara. Sebuah kisah heroik mengenai seorang anak yang dibuang, dibesarkan di hutan, dan akhirnya kembali untuk menuntut haknya atas tahta Kerajaan Galuh.
Di kawasan inilah, diyakini terdapat Panyambungan Hayam, tempat di mana ayam jantan sakti milik Ciung Wanara bertarung dan mengalahkan ayam milik raja, yang berujung pada terungkapnya jati diri sang pangeran.
Legenda ini bukan sekadar mitos, melainkan simbol perlawanan dan pencarian keadilan masyarakat Sunda kuno yang diwariskan turun-temurun.
Menyusuri jalan setapak hutan untuk menemukan struktur batuan megalitik yang memiliki fungsi dan cerita masing-masing pada masa Kerajaan Galuh.
Batu berbentuk tahta, diyakini sebagai singgasana atau tempat musyawarah Raja Galuh.
Merupakan situs utama berbentuk dolmen yang dikelilingi batu tegak (menhir).
Struktur batu memanjang yang menyerupai senjata, simbol pertahanan kerajaan.
Mitosnya, batu ini akan mengeluarkan bunyi ledakan jika ada bahaya mengancam.
Area datar bersejarah tempat legenda adu ayam Ciung Wanara terjadi.
Situs ikonik yang berkaitan langsung dengan kisah perebutan tahta Galuh.
Mata air sakral bertemunya Sungai Citanduy dan Cimuntur, tempat ritual mensucikan diri.
Air kehidupan. Dipercaya membawa berkah dan awet muda bagi yang membasuh wajah.
Situs punden berundak kecil untuk pemujaan roh leluhur masyarakat Galuh.
Tempat sakral yang dulunya digunakan untuk ritual keagamaan dan memohon petunjuk.
Area bersandar ibu setelah melahirkan, melambangkan asal usul keturunan.
Situs peninggalan yang disimbolkan sebagai tempat bersandar dan memulihkan diri pasca melahirkan penerus Galuh.
Simbol tempat menerima anugerah, letaknya dekat dengan Pangcalikan.
Tempat yang disimbolkan untuk menerima anugerah dan berkah dari Sang Pencipta.
Makam penyebar agama Islam yang memiliki ikatan sejarah dengan kawasan ini.
Situs peninggalan era Islam yang membuktikan keberagaman sejarah di Karangkamulyan.
Titik pertemuan aliran dua sungai besar, Sungai Citanduy dan Cimuntur.
Lokasi eksotis yang sering dikaitkan dengan tempat pembersihan diri secara spiritual karena arus pertemuannya yang kuat.
Situs berupa kolam atau mata air alami yang berkaitan dengan kisah masa lalu.
Dalam cerita rakyat, area telaga ini dikaitkan dengan tempat dibuang dan ditemukannya bayi Ciung Wanara.
Selain peninggalan bersejarah purbakala, kawasan Karangkamulyan juga menawarkan fasilitas modern dan monumen bersejarah lainnya bagi pengunjung.
Tempat istirahat yang sejuk dan asri di bawah rimbunnya pepohonan hutan lindung. Terletak strategis di jalur utama jalan nasional, rest area ini dilengkapi dengan deretan warung kuliner yang menyajikan makanan khas Sunda, area parkir luas, dan fasilitas ibadah.
Monumen Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong) yang megah menjadi lambang persaudaraan umat manusia. Monumen ini ditempatkan di Karangkamulyan karena nilai historis Galuh yang menjunjung tinggi toleransi, anti-kekerasan, dan cinta damai.
Keindahan alam dan eksotisme sejarah dalam bidikan lensa.
Melihat lebih dekat suasana mistis dan keindahan Situs Karangkamulyan melalui dokumentasi terkini.
Belajar sejarah Kerajaan Galuh dan tatanan masyarakat Sunda kuno secara langsung di lokasi aslinya.
Menikmati udara segar dan suasana alam yang asri, dilindungi oleh rimbunnya pepohonan berusia ratusan tahun.
Menyaksikan jejak ritual dan tradisi adat masyarakat Sunda yang masih dihormati dan dilestarikan hingga kini.
Lokasi strategis berada tepat di jalur utama jalan nasional Ciamis-Banjar, mudah dijangkau kendaraan apapun.
Situs Karangkamulyan bukan sekadar benda mati. Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat adat dan keturunan Galuh berkumpul untuk melaksanakan tradisi Ngikis.
Upacara ini merupakan ritual pembersihan pusaka dan pemagaran (ngikis) area situs inti (Pangcalikan) menggunakan anyaman bambu. Simbol dari membersihkan diri, hati, dan pikiran sebelum memasuki bulan puasa.
Diadakan setahun sekali menjelang Ramadhan.
Rencanakan perjalanan Anda ke Situs Karangkamulyan.
Jl. Raya Ciamis - Banjar Km. 16, Desa Karangkamulyan, Kec. Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Buka Setiap Hari
07:00 - 17:00 WIB